Wisatawan dari berbagai daerah meluangkan waktunya untuk mengunjungi tempat wisata di Yogyakarta, salah satunya Taman Nasional Gunung Merapi yang lebih dikenal Kaliurang, merupakan tempat wisata di lereng Gunung Merapi yang berjarak kira-kira 5 km dari pucak Gunung Merapi. Letak Kaliurang kira-kira 18 Km dari kota Yogyakarta dengan desa-desa di lerengnya sampai ketinggian 1700 m.
Gunung yang terletak di Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta ini merupakan kumpulan gunung berapi yang termuda dalam kumpulan gunung berarpi di Bagian Selatan Pulau Jawa. Gunung ini terletak di Zona Subduksi yang mengakibatkan Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempengan Eurasia. Sejak 400.000 tahun lalu dan 10.000 tahun lalu jenis letusannya adalah efusif setelah itu letusannya menjadi eksplosif dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava. Karakteristik letusan sejak 1953 adalah desakan lava ke puncak kawah disertai dengan keruntuhan kubah lava secara periodik dan pembentukan awan panas (nuée ardente) yang lebih dikenal wedhus gembel oleh masyarakat sekitar. Wedhus gembel ini dapat meluncur di lereng gunung atau vertikal ke atas. Letusan tipe Merapi ini secara umum tidak mengeluarkan suara ledakan tetapi desisan. Kubah puncak yang ada sampai 2010 adalah hasil proses yang berlangsung sejak letusan gas 1969. (www.google.com)
Pengaruh Letak Jalur Lempeng
Daerah DIY merupakan wilayah yang memiliki tingkat seismik aktif dengan tingkat frekuensi kegempaan yang sangat tinggi di Indonesia. Sementara itu, Daerah Yogyakarta sangat rawan gempabumi akibat aktivitas tumbukan lempengan di Samudera Indonesia dan akibat sesar-sesar aktif di daratan. Di Zona seismik aktif dan kompleks inilah Gunung Merapi tumbuh dan berkembang menjadi gunung api yang sangat aktif. Tingkat tingginya aktivitas gempabumi tektonik merupakan efek dari frekuensi gempa bumi kuat yang sering mengguncang Daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Sebagai gambaran tingginya aktivitas seismik, dalam rentang waktu hanya 3 bulan sebelum erupsi, saat ini telah tercatat 6 kali peristiwa gempabumi tektonik yaitu Gempabumi Yogyakarta tanggal 21 Agustus 2010 (M 5,0 SR), 3 September 2010 (M 5.0 SR), 11Oktober 2010 (M 3.9 SR), 28 Oktober 2010 (M 4.0 SR), dan 28 Oktober 2010 (M 3,2 SR). (www.google.com)
Meningkatnya kegiatan erupsi Merapi merupakan bagian dari rangkaian kegiatan tektonik sehingga terjadi peningkatan aktivitas Merapi. Merapi menjadi labil karena terus-menerus mendapatkan pukulan dan tekanan dari getaran gempabumi yang kerap kali terjadi dari pusat-pusat gempabumi di sekitarnya. Magma yang secara terus-menerus mendapat tekanan ini akan menyebabkan dapur magma menjadi penuh dan bergerak naik sehingga akan memicu lebih banyak lagi magma yang naik ke atas.
Seperti yang diutarakan Daryono, S.Si, M. Si, Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Depansar pada acara Seminar Scientific Jurnal Club BMKG, Rabu (1/12) bahwa selain diakibatkan tingginya frekuensi aktivitas seismik, secara tektonik aktivitas merapi juga dipengaruhi adanya zona sesar aktif. Zona ini terdapat pada sebaran sesar lokal, yaitu: Sesar Opak, Sesar Progo, Sesar Dengkeng, dan Sesar Oya. Selain itu, Ia juga mengatakan tingginya aktivitas Merapi didukung oleh lokasi kerucut Merapi yang terletak pada dua sistem sesar, yaitu: sesar berarah utara-selatan (transverse fault) pembentuk kompleks jalur Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Gunung Ungaran; dan sistem sesar berarah barat-timur yang disebut sebagai Sesar Simo. Melihat fakta tektonik dan seismisitas Yogyakarta yang sedemikian rupa sehingga sampai kapanpun Merapi akan tetap menjadi gunungapi paling aktif di dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar