Senin, 13 Desember 2010

KEGANASAN GELOMBANG PANAS


Akhir-akhir ini pada tahun 2010, selain gempabumi dan badai, gelombang panaspun  menghiasi headline harian di dunia, baik cetak, maupun elektronik. Seperti halya gempabumi dan badai, gelombang panas baik secara langsung, maupun tidak langsung pun juga telah menelan jumlah korban jiwa yang besar seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di Wilayah Negara Jepang dan Rusia.

Wilayah Negara Jepang diserang gelombang panas (heat wave) yang telah menewaskan sekitar 258 warga, Kamis (17/8), 70% diantaranya adalah manula.  Saat kejadian, suhu Tokyo telah mencapai 370 C, sedangkan suhu normal berkisar antara 27-300 C. Kondisi ini merupakan kondisi yang terparah sejak tahun 1946. Tak hanya menyerang Negara Jepang, gelombang panas juga menyerang Rusia di Moskow yang menewaskan 700 orang pertengahan Juli 2010. Badan cuaca Rusia mengatakan gelombang panas yang melanda Moskow dan bagian lainnya merupakan kejadian yang terburuk. Suhu tinggi mencapai 380C dibandingkan suhu rata-rata musim panas yang biasanya hanya mencapai 240 C. (www.VOANews.com).

Gelombang panas yang terjadi saat ini mengakibatkan suhu udara meningkat secara drastis, menyebabkan kematian akibat hipertemia, kegagalan panen, kebakaran hutan. Bahkan, di Bryansk, Rusia, dampak dari gelombang panas ini adalah sisa-sisa partikel radioaktif dari ledakan Chernobyl tahun 1986 yang telah terserap kedalam tanah,dimugkinkan akan terlepas kembali ke udara dan dapat membentuk awan radioaktif yang membahayakan. 

Keganasan gelombang panas ini memang cukup mencekam, bila kita cermati laporan Dr. James Hansen dari Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS. yang menyatakan bahwa tahun 2010 ini, adalah tahun terpanas dalam catatan sejarah.

Menurut wilkipedia gelombang panas adalah periode lanjutan dari cuaca yang sangat panas, yang diikuti oleh kelembaban tinggi. Definisi ini tidaklah selalu tepat karena tergantung dari rata-rata temperatur harian di suatu wilayah. Misalnya temperatur yang dianggap normal oleh orang-orang dari daerah beriklim tropis dapat dianggap sebuah gelombang panas di daerah dingin bila mereka berada di luar pola iklim normal untuk daerah tersebut. 

Gelombang panas memiliki tingkat keparahan yang bergantung pada intensitas panas, durasi kejadian, dan temperatur tertinggi yang terjadi pada malam hari.  Sebagai contoh, gelombang panas yang melanda Eropa mencapai suhu pada siang hari rata-ratanya mencapai 350 C, di Rusia (380C), Swiss (320C), Portugal (470C), serta Inggris yang merasakan untuk petama kalinya temperatur diatas 370C dalam 300 tahun terakhir. Sebaliknya suhu pada malam harinya tidak turun secara signifikan sehingga suhu tubuh tidak sempat melakukan pendinginan dan menyebabkan banyak kematian akibat hipertemia. (www.google.com).  

Suhu malam hari yang tidak turun dikarenakan banyaknya energi panas yang ditangkap radiasi gelombang pendek  pada siang hari sehingga pelepasan energi panas yang dilepaskan oleh radiasi gelombang panjang pada malam hari memerlukan waktu yang lama. Normalnya, energi panas dilepaskan dari matahari tenggelam hingga tengah malam dan suhu minimum terjadi pada pukul 05.00 pagi, seperti yang diungkpkan Kepala Sub Bidang Kepala Sub Bidang Siklon Tropis BMKG. A. Fachri Radjab, S. Si.

Menurut para meteorologiawan, cuaca ekstrim seperti  gelombang panas di Eropa saat ini disebabkan oleh adanya penyimpangan perilaku arus jet (jetstream). Arus jet adalah angin yang berada di altitude tinggi yang mengelilingi dunia dari barat ke timur dan biasanya mendorong kelembaban yaang ringan dari Samudra Atlantik sampai Inggris Raya. Arus ini dibawa oleh gelombang Rossby yang biasanya menghasilkan pola yang khas, tetapi  saat ini menunjukkan pola yang tidak biasa.. Arus jet ini adalah perangkap sistem cuaca, udara hangat tersedot ke puncak sementara udara dingin menuju ke ‘palung’. Hal ini sama seperti yang diutarakan Kepala Sub Bidang Cuaca Ekstrim, Kukuh Ribudiyanto, S. Si mengatakan bahwa arus jet (jet stream) memenyedot udara hangat ke puncak, sehingga suhu akan naik, dan inilah yang mengakibatkan gelombang panas.
Penanaman Hutan
Kejadian gelombang panas ini merupakan suatu ‘distorsi iklim” yang disebababkan oleh efek rumah kaca yang nantinya menyebabkan pemanasan global. Tentunya, ini membuat kita tidak untuk berdiam diri, tetapi berfikir apa yang  harus dilakukan  untuk menghijaukan lahan/hutan/permukiman/taman dengan reboisasi tanaman. 

Kita tak bisa mengelak, kerusakan hutan dunia/ Indonesia dapat mendatangkan gelombang panas. Kita memiliki hutan seluas 162.290.000 hektar (Dinas Kehutanan Indonesia, 1950). sehingga kitapun mampu menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki hutan yang berfungsi sebagai “paru paru dunia”. (www.google.com).
Saat ini. kita dihadapkan pada kerusakan hutan yang makin parah, maka kita harus mementukan “upaya alternatif” yang taktis dan berhasil guna, yaitu dengan melakukan penghijauan lahan/hutan/pemukiman/taman/perkantoran dengan reboisasi tanaman keras menahun.

Lantas apakah kita mampu terus memfungsikan hutan Indonesia seperti tersebut di atas, bila luasnya terus saja menciut, sebagaimana dilaporkan Kementrian Kehutanan bahwa hingga tahun 1992 luasnya tinggal 118,7 juta Ha, kemudian pada tahun 2003 berkurang menjadi 110,0 juta Ha dan tahun 2005 tinggal 93,92 juta Ha (Praktis tinggal 58 %. Kita akan lebih meratap pilu bila menyikapi laporan World Resourches Institute (1977) yang menyatakan bahwa Indonesia telah kehilangan “hutan asli alamnya” hingga mencapai 72 %. (www.google.com)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar