Senin, 03 Januari 2011

APA ITU GEMPA



Wilayah Indonesia terdiri atas ribuan pulau besar dan kecil serta terdapat garis katulistiwa yang membujur dari Barat ke Timur dan melintang dari Utara ke Selatan. Pulau-pulau tersebut dikelilingi laut lepas, teluk, dan selat.  Situasi inilah yang dapat membawa fenomena alam berupa gempa bumi, perbedaan waktu, gravitasi, kemagnetan bumi, dan petir.

Bencana alam yang sering melanda wilayah Indonesia telah menimbulkan kerugian yang amat besar, baik jiwa, harta benda, dan terhambatnya kegiatan ekonomi serta kegiatan sosial masyarakat. Rentetan bencana yang terjadi harus menjadi peringatan bagi kita dalam mengelola dan memahami gejala-gejala alam.

Pada kejadian gempa bumi dan tsunami di Aceh, 26 Desember 2004 silam yang telah menelan korban lebih dari 200 ribu orang meninggal dari 11 negara yang tersapu gelombang tsunami. Di Provinsi Aceh Nangro Aceh Darrusalam Indoensia tercatat lebih dari 160.0000 orang meninggal dunia dan hilang.

Kejadian ini menyadarkan kita bahwa wilayah Indonesia memiliki tingkat kerawanan seismik yang tinggi dari Lepas Pantai Barat Sumatera kemudian ke Selatan Pulau Jawa lalu ke Nusa Tenggara dan berbelok ke Laut Banda yang merupakan wilayah pertemuan tiga lempengan dunia, yaitu Lempengan Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, seperti yang diutarakan Kepala Bidang Informasi Dini Gempabumi dan Tsunami, Drs. Jaya Murjaya. M. Si. “Di wilayah Indonesia juga terdapat sesar/ patahan aktif, yaitu: sesar Kali Opak (P. Jawa), sesar Palu-Koro (P. Sulawesi), Sesar Gorontalo (P. Sulawesi), dan sesar Papua,”ungkap Jaya.  

Menurutnya,  sepanjang sejarah dari tahun 1629 hingga saat ini telah terdapat 110 peristiwa gempa bumi dan tsunami, 100 akibat gempa bumi tektonik, 9 kali akibat gempabumi vulkanik (gunung api), dan 1 kali akibat longsoran di bawah laut di Nusa Tenggara, 1979.

Sebagai informasi, dari beberapa pengertian gempa bumi, Jaya mengatakan bahwa gempabumi adalah penjalaran gelombang seismik dalam permukaan bumi. “Semua definisi pada umumnya sama karena gempa merupakan akibat suatu patahan lempengan kemudian bergetar dan menimbulkan energi yang menjalar,”tuturnya. Secara ilmu pasti gempa tidak dapat diprediksi kapan terjadinya, tetapi secara metode statistik, terdapat peramalan gempa tetapi pasti ada +/- yang masih besar. Jaya memberikan contoh, gempa yang magnitudnya 8 SR memiliki waktu peramalan gempa berikutnya, yaitu 200 tahun periode ulangnya, jika diambil plus minusnya 20 tahun, maka akan terjadi gempa 220 tahun atau 180 tahun lagi. ”Tentunya, ini memiliki range kesalahan yang masih tinggi,”ujarnya.

Jaya menambahkan meskipun gempa tidak dapat diprediksi kapan terjadinya, kita dapat mengetahui fenomena akan terjadinya gempa melalui berbagai tanda, yaitu: menganalisa gelombang S (Transversal) terhadap gelombang P (Longitudinal); mengamati adanya posok (gempa awal), misalnya sebelum Gempa terjadi di Yogyakarta, terdapat beberapa gempa-gempa kecil; mengamati mikro graviti atau perubahan gravitasi; mengamati adanya anomali magnet bumi; kelakuan binatang, contohnya ketika gempa di Haiti, China tahun 1976 pada musim salju, ular keluar dari lubang; adanya temperatur air tanah dalam.

Selanjutnya, Jaya menjelaskan  suatu gempabumi dapat menimbulkan tsunami apabila memenuhi empat syarat, yaitu: gempa terjadi di laut, memiliki magnitud diatas 7 SR, gempanya dangkal (kurang dari 6 km),  dan terdapat perubahan deformasi dasar laut secara vertikal. ”Kita wajib memberikan informasi kepada masyarakat kurang dari lima menit setelah gempa terjadi, tetapi kita membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk menentukan perubahan deformasi dasar laut apakah vertikal atau horisontal,  ”ungkap Jaya.  Inilah yang menyebabkan adanya pernyataan ”POTENSI TSUNAMI.”

Peristiwa gempa bumi dan tsunami yang pernah terjadi mendorong Pemerintah Indonesia dengan bantuan beberapa negara, seperti Perancis, Jerman, Jepang, Amerika Serikat dan Badan PBB UNESCO mendirikan Sistem Peringatan Indonesia dini dan tsunami yang dinamakan Ina-TEWS yang telah diresmikan oleh Presiden RI pada tanggal 11 November 2008 lalu. ”Saat ini kita telah memiliki perangkat monitoring gelombang seismik berupa seismograph (160) dan strongmotion sesimograph (500). Sedangkan, untuk memonitor gelombang tsunami kita telah memiliki Buoy (DRAT, InaBuoy) sejumlah 25 dari BPPT dan Tide Gauge (90) dari Bakosurtanal. Sedangkan dalam memonitor deformasi dilengkapi dengan GPS (Global Positioning System ) dari Bakosultanal serta Image Satelit dari Lapan,”tutur Jaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar